Sabtu, 17 November 2012

Trend Pengembangan Pusat Sumber Belajar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

PSB  telah berkembang pesat sejak keberadaan  mereka di kancah pendidikan pada awal 1960-an.  Pada tahun 1961 asosiasi pustakawan Amerika telah menerrbitkan standar media untuk perpustakaan sekolah. Dalam waktu kurang dari satu dekade, standarsd ini sudah tidak berlaku lagi dan diganti dengan yang baru yang diterbitkan pada tahun 1969 oleh AECT.
Sejak pertengahan dekade 1970-an terdapat perkembangan yang pesat di bidang dan konsep teknologi pendidikan dan teknologi instruksional (pembelajaran) dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, tidak saja di Amerika Serikat tetapi juga di negara-negara lain seperti Canada, Australia, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan tentunya juga di Indonesia. Konsep teknologi pendidikan menekankan kepada individu yang belajar melalui pemanfaatan dan penggunaan berbagai jenis sumber belajar.
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.
Pusat sumber belajar merupakan sarana untuk mengelola dan mengembangkan sumber belajar. Pusat sumber belajar sering disebut juga sebagai media center, yang diartikan sebagai lembaga yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan berbagai media pembelajaran. Pusat sumber belajar dirancang untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik baik secara individu maupun kelompok atau guru untuk memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, kebutuhan akan sumber belajar dalam proses pembelajaran bisa terpenuhi dengan adanya pusat sumber belajar.
Untuk lebih memperjelas mengenai pengembangan pusat sumber belajar akan diuraikan  pada makalah.





B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dapat dirumuskan sesuai dengan judul makalah di antaranya yaitu
1.      Apa pengertian Pusat Sumber belajar ?
2.      Apa Pentingya Pengembangan Pusat Sumber Belajar ?
3.      Bagaimana trend dalam pengembangan pusat belajar ?


C.    Tujuan Penulisan

Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian pusat sumber belajar
2.      Mengetahui pentingnya pengembangan pusat sumber belajar
3.      Mengetahui mengenai trend dalam pengembangan pusat belajar



BAB II
PEMBAHASAN
1.        Pengertian Pusat Sumber Belajar
Menurut Sukorini (Warsito,2008:215) Pusat sumber belajar merupakan tempat di mana berbagai jenis sumber belajar dikembangkan, dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan pembelajaran. Merril dan Drob berpendapat bahwa Pusat sumber belajar merupakan suatu aktivitas yang terorganisasi yang berhubungan dengan kurikulum dan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan (Warsito, 2008:215). Dengan demikian, Pusat sumber belajar merupakan sarana untuk mengelola dan mengembangkan sumber belajar.
Pusat sumber belajar sering disebut juga sebagai media center, yang diartikan sebagai lembaga yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan berbagai media pembelajaran. Pusat sumber belajar dirancang untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik baik secara individu maupun kelompok atau guru untuk memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, kebutuhan akan sumber belajar dalam proses pembelajaran bisa terpenuhi dengan adanya pusat sumber belajar.
Pembentukan Pusat sumber belajar juga didasari oleh pentingnya sebuah lingkungan dalam mendukung proses belajar siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor pendukung siswa dalam belajar adalah kondisi lingkungan yang nyaman. Dengan adanya Pusat sumber belajar, siswa bisa diorientasikan untuk melakukan proses belajar di tempat tersebut. Dengan demikian, pusat sumber belajar yang sudah disetting sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan pada penggunanya, dapat membantu siswa dalam proses belajar. Pengembangan sistem pembelajaran menuntut peningkatan efektifitas kegiatan belajar mengajar dengan memberikan penekanan pada aktivitas siswa dimana kegiatan belajar di kelas dan pusat sumber belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terpadu.
Ada beberapa contoh yang merupakan pusat sumber belajar, diantaranya yaitu perpustakaan, laboratorium, taman belajar dan yang lainnya.

2.        Pentingnya Pengembangan Pusat Sumber Belajar
Pengembangan Pusat Sumber Belajar sangat penting artinya untuk mengatasi kekurangan dan keterbatasan persedian media yang ada. Di samping itu, media yang dikembangkan sendiri oleh guru/pendidik dapat menghindari ketidak-tepatan (mismatch) karena dirancang sesuai kebutuhan, potensi sumber daya dan kondisi lingkungan masing-masing. Lebih dari itu, juga dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan inovasi para pendidik sehingga dihasilkan profesionalitas pendidik.
Pusat Sumber Belajar berfungsi melakukan pengadaan, pengembangan, produksi, pelatihan dan pelayanan dalam pemanfaatan sumber belajar (terutama bahan dan alat) untuk kegiatan pendidikan dan pembelajaran dibandingkan dengan perpustakaan yang hanya berfungsi melakukan pengadaan dan pelayanan pemanfaatan sumber belajar dalam rangka kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian perpustakaan mempunyai fungsi yang lebih sempit jika dibandingkan dengan fungsi Pusat Sumber Belajar, karena hanya melaksanakan sebagian saja fungsi yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar.
Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis dan terus menerus, yang akan membantu pengajaran dalam mengembangkan pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan partisipasi aktif siswa di dalam proses belajar-mengajar. Di sinilah letak hubungan yang penting antara pusat sumber belajar dengan pengembangan sistem pembejaran. Segala sumber dan bahan serta personil yang ada di dalam pusat sumber belajar dimaksudkan untuk membantu efektifitas dan efisiensi interaksi siswa dan pengajar dalam proses pembelajaran.
Secara umum, tujuan dari Pusat sumber belajar adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan proses belajar mengajar melalui pengembangan sistem pembelajaran. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru (non-tradisional), yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya.
Selain itu, secara khusus pusat sumber belajar bertujuan untuk :
a.       Menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional.
b.      Mendorong penggunaan cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban institusional lainnya.
c.       Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut untuk pengembangan sistem pembelajaran yang ada.
d.      Melaksanakan latihan untuk para tenaga pengajar mengenai pengembangan sistem pembelajaran dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran
e.       Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efesien.
f.       Menyediakan pelayanan produksi bahan ajar.
g.      Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desai fasilitas sumber belajar.
h.      Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar.
i.        Menyediakan pelayanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan.
j.        Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media dan peralatannya.
k.      Menyediakan pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektifitas berbagai cara pengajaran.

Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus di atas, pusat sumber belajar mempunyai fungsi dan kegiatan sebagai berikut :
a.       Fungsi pengembangan sistem intruksional
Fungsi ini membantu jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar, yang meliputi : (a) perencanaan kurikulum, (b) identifikasi pilihan program pembelajaran, (c) seleksi peralatan dan bahan, (d) perkiraan biaya, (d) pelatihan bagi tenaga pengajar, (e) perencanaan program, (f) prosedur evaluasi, dan (g) revisi program.

b.      Fungsi Informasi
Ada beberapa macam sumber informasi, seperti pusat komputer (puskom), bahan bacaan, radio, televisi, perorangan, lembaga, dan sebagainya. Jika informasi yang diperlukan hanya sedikit dan yang memerlukannya juga sedikit, maka bahan informasinya dapat disimpan dalam satu file. Jika yang memerlukannnya lebih banyak, maka perlu dibentuk perpustakaan lengkap dengan katalognya. Bahkan jika lebih banyak lagi, harus menggunakan data base computer.

c.       Fungsi pelayanan media
Fungsi ini berhubungan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan pelajar, yang meliputi : (a) sistem penggunaan media untuk kelompok besar, (b) sistem penggnaan media untuk kelompok kecil, (c) fasilitas danprogram belajar sendiri (individual), (d) pelayanan perpustakaan media/bahan pengajaran, (e) pelayanan pemeliharaan dan peminjaman/sirkulasi, dan (f) pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan.

d.      Fungsi Produksi
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial, yang meliputi : (a) penyimpanan karya seni asli (original atwork) untuk tujuan pembelajaran, (b) produksi transparansi untuk OHP, (c) produksi fotografi (slide, filmstrip, foto, dan lain-lain) untuk presentasi, (d) pelayanan reproduksi fotografi,
(e) pemrograman, pengeditan, dan reproduksi rekaman, dan (f) pemrogaraman, pemeliharaan, dan pengembangan sistem radio dan televisi di kampus.

e.       Fungsi administratif
Fungsi ini berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai. Hal ini meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut : (a) supervisi personalia untuk media, (b) pengembangan koleksi media untuk program pembelajaran, (c) pengembangan spesifikasi pendidikan untuk fasilitas baru, (d) pengembagan sistem peminjaman/sirkulasi, (e) pemeliharaan kelangsungan pelayanan produksi bahan pembelajaran, dan (f) penyediaan pelayanan untuk pemeliharaan bahan, peralatan, dan fasilitas.

3.        Trens Pengembangan Pusat Sumber Belajar
Di banyak sekolah konsep pusat belajar dikembangkan secara bertahap. Seringkali sebuah perpustakaan-sebagai pusat media atau ruang sumber belajar dikembangkan pertama. Hal ini kemudian mengakibatkan perpanjangan dari pendekatan ini untuk memenuhi kebutuhan dari populasi sekolah umum melalui pusat-pusat pembelajaran. Pusat-pusat belajar tidak hanya sekedar repositeries untuk bahan pengajaran. .
Mereka telah berkembang menjadi tempat belajar mengajar yang dinamis yang menerapkan sistem pengaturan untuk mengidentifikasi , menyediakan kebutuhan belajar individu, dan mengevaluasi hasil dari instruksi.
Konsep Pusat Sumber Belajar mengubah organisasi informasi dan pengelolalaan perpustakaan dari “lingkungan hanya bahan cetak” menjadi “lingkungan bahan cetak dengan bahan non cetak”,.
Pengelolaan perpustakaan berubah karena dibutuhkan jenis-jenis personalia yang baru di samping staf perpustakaan yang sudah ada. Personalia yang dibutuhkan adalah yang mempunyai keterampilan dan pengetahuan dalam desain pembelajaran, pengetahuan dan keterampilan dalam pengembangan bahan (media) pembelajaran, penyiapan bahan belajar, keterampilan dalam mengakses data atau informasi melalui internet. Tentu saja dibutuhkan juga staf teknis yang akan merawat agar semua peralatan dapat tetap berfungsi setiap saat digunakan.
Staff (petugas) sangat berpengaruh langsung terhadap PSB. Betapapun modern mutu peralatan dan media yang disediakan, apabila tidak dikelola dengan baik  oleh tenaga yang ahli dan trampil maka tidak mungkin PSB akan berfungsi dengan baik.
Fasilitas untuk perpustakaan, peralatan, studio, laboratorium, dan staf yang memadai dengan penataan ruang yang baik akan membuat klien menjadi betah dan mendukung keberhasilan PSB. Apalagi bila dibarengi dengan pelayanan yang baik.
Peralatan yang memadai berpengaruh langsung dalam efektifitas pelayanan. Kemajuan dan perkembangan peralatan dan teknologi yang sangat cepat seharusnya membuat pengelolaan PSB juga mengikuti perkembangan peralatan yang baru.

A. Philosofi dasar dari pusat-pusat pembelajaran
  Pusat pembelajaran didasarkan pada filosofi bahwa individu murid mampu memikul tanggung jawab untuk banyak belajar sendiri. Mereka didasarkan juga, pada:
1.       pemahaman bahwa anak-anak belajar dengan cara yang berbeda dan pada tingkat yang berbeda-beda, dan
2.       keyakinan bahwa adalah tugas para pendidik untuk memberikan perbedaan ini.


B. Tujuan untuk siswa

Remediasi dalam membaca dan penguatan serta perluasan aktivitas belajar di kelas memegang peranan utama bagi pusat belajar. Selain itu, tujuan lainnya adalah menyediakan encrichment (pengayaan) dan kebebasan belajar-mengajar yang tidak dilaksanakan di kelas reguler. Oleh karena itu, pusat-pusat pembelajaran berusaha untuk mengembangkan karakteristik murid dan kemampuan sebagai inisiatif, arah dalam belajar, kemandirian, rasa tanggung jawab, teknik pemecahan masalah , dan penyelidikan, penelitian, serta skill evaluasi diri.
C.  Daerah pelayanan instrucsional pusat pembelajaran
Daerah  pelayanan pendidikan pada hampir seluruh pusat pembelajaran sebagian besar telah dimasukkan, dalam urutan, (1) membaca, (2) bahasa dan sastra, (3) mathmatics dan ilmu pengetahuan, dan (4) ilmu sosial dan seni.

D. Staf dan perannya
Fungsi dan prinsip-prinsip pengelolaan PSB, baru akan dapat berjalan apabila didukung oleh tenaga-tenaga yang kompeten, dinamis dan jumlah yang cukup. Hal ini dimaksudkan agar para tenaga tersebut dapat menjalankan tugas dan fungsi masing-masing dengan hasil yang memuaskan.

Mudhoffir (1992) mengelompokkan ketenagaan pada PSB sebagai berikut :
1. Pimpinan Pusat Sumber Belajar
Seorang pemimpin dari PSB adalah seorang yang berlatar belakang akademis yang kuat. Secara struktural dan bertanggung jawab langsung kepada  wakil bidang akademis atau Kepala Sekolah. Secara ideal ia harus menguasai bidang pengembangan insruksional, ahli media, dan sekaligus teknisi untuk dapat mengukur bawahannya secara menyeluruh dan mendalam, tidak sekedar koordinator. Tetapi apabila hal tersebut tidak mungkin, maka pilihan hendaknya kembali tertuju kepada orang yang mempunyai latar belakang dan pengalaman yang cukup didalam bidang akademis, khususnya sebagai pengembang instruksional ketimbang bidang lain.



2. Ahli Media (media professional)
Ahli media tidak hanya menguasai teori tetapi juga terampil memproduksi Keterampilan memproduksi media dalam suatu pusat sumber belajar sekurang-kurangnya meliputi produksi berbagai media. Ahli media tidak hanya ahli didalam media saja dan berdiri sendiri, melainkan harus memahami kaitannya dengan bidang pendidikan dan pengajaran.
Beberapa prinsip dalam kaitannya dengan pendidikan dan pengajaran antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Ahli media berada di garis depan dalam program dan praktek pendidikan dan selalu berperan serta dalam mendorong pembaharuan proses belajar-mengajar.
b.      Ahli media merupakan bagian dari staf pengajara.Oleh karena itu ikut serta dalam pengambilan keputusan instruksional
c.       Dalam program media ahli media membutuhkan kerja sama dengan contet expert teknisi dan tenaga administrasi
d.      Ahli media seyogyanya memiliki inisiatif dan dapat menerapkan program media dalam pendidikan, memiliki kemampuan dan keterampilan lebih dari satu keahlian dalam bidang teknologi pendidikan.

3. Tenaga Pelayanan Peminjaman dan Penyimpanan
Kegiatan pelayanan adalah fungsi yang langsung berhubungan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh Pusat Sumber Belajar karena keberadaan PSB dengan semua personel dan sarana serta peralatannya adalah dimaksudkan untuk memberikan pelayanan berupa pemanfaatan berbagai jenis bahan dan media belajar untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Pelayanan yang diberikan dalam kaitan ini sesungguhnya sama dengan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan di dalam membantu guru dan peserta belajar/siswa berupa peminjaman bahan-bahan cetakan untuk memudahkan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.



4. Teknisi (technician)
Teknisi yang khusus dalam media yang telah dilatih dan memiliki cukup pengalaman kerja teknisi media. Status teknisi adalah sebagai pembantu dan bertanggung jawab kepada ahli media.
Perincian tugas teknisi ini antara lain adalah sebagai berikut :
a.       Membantu ahli media dalam teknik pemprosesan informasi dan bahan-bahan
b.      Membantu dalam memproduksi grafis, display dan pameran bahan-bahan seerti transparansi, poster, chart, lukisan dan bahan-bahan untuk program televisi
c.       Membantu produksi program audio, fotografi, film, televisi
d.      Memasang komponen-komponen sistem audio recording, televisi, film dan lain-lain
e.       Memperbaiki dan memelihara peralatan
f.       Menjadi operator semua peralatan untuk keperluan dosen dalam mengajar.

5. Tenaga Administrasi
Tenaga administrasi adalah staf yang berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Tugas dari pada tenaga ini adalah yang berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara yang sesuai.

6. Tenaga Bantu (Aide)

Tenaga bantu adalah staf atau petugas yang berkerja dalam bidang administrasi pelayanan dan pembantu produksi. Statusnya adalah pembantu dan tingkatnya lebih rendah dibanding dengan teknisi
Sebagai tenaga administrasi mereka bekerja dalan hubungan dengan tugas-tugas seperti:
a.       Korespondensi
b.      Pembuatan laporan
c.       Pembuatan bibliografi
d.      Pembukuan.
e.       Inventarisasi
f.       Pengetikan
g.      Pencatatan dan lain-lain.

Sebagai tenaga petugas pelayanan, mereka berhadapan langsung dengan pemakai atau klien dan bekerja dalam hubungan dengan tugas-tugas seperti:
a.       Menyiapkan memproses dan menerima order atau peminjaman atauun produksi media.
b.      Memproses bahan-bahan
c.       Menyimpan dan meminjamkan bahan-bahan maupun peralatan kepada klien dan membantu menggunakan bahan-bahan sumber belajar.
d.      Membantu mengoperasikan perlatan dan mengadakan perbaikan kecil
e.       Ikut memelihara peralatan dan bahan
f.       Membuat daftar check dan bibliografi untuk mengetahui apakah bahan dan peralatan tersedia atau tidak
g.      Melayani sirkulasi bahan dan peralatan, menagih, menarik denda, menyimpan dan mengembalikan jaminan, menyediakan dan mencatat pesan mengatur waktu penjadwalan dan pengiriman bahan serta peralatan.

E. Ukuran dan Desain Pusat Belajar
Pusat pembelajaran biasanya berkisar dalam ukuran dari 600 meter persegi sampai 3.600 meter persegi. Beberapa orang beranggapan, khususnya di tingkat SMP, dianggap membutuhkan ukuran  yang lebih besar. Dalam kebanyakan kasus, ukuran dan desain dari pusat pembelajaran telah mempengaruhi penjadwalan dan layanan yang diberikan.
Pada umumnya pusat-pusat belajar dipasang karpet yang memungkinkan anak-anak tingkat SD duduk dilantai dengan nyaman pada saat belajar.
Ruangan diberi pembantas untuk membagi ruang belajar dengan menggunakan rak-rak buku. Luas dan tingginya tempat belajar yang diberi sekat tergantung pada ukuran bangunan, usia anak yang akan diberi pelayanan dan efek yang diinginkan dari sudut pandang estetika. Jenis pembatas ruangan dari rak sering digunakan untuk bagian dari bidang pelajaran. Ketinggian dan panjang dari pembagi seringkali tergantung pada ukuran fasilitas fisik, kelompok usia dari siswa yang akan dilayani, dan efek yang diinginkan dari sudut pandang estetika.


F. Sumber dan Perlengkapan Instruksional (Pembelajaran)
Selama ini bahan belajar cetakan (printed materials) seperti buku, ensiklopedia, jurnal, diktat, dan sebagainya merupakan sumber belajar bahan yang paling dominan peranannya dalam kegiatan pembelajaran. Perpustakaan selama ini telah menunjukkan peran yang cukup efektif dalam melaksanakan fungsi ini. Namun bahan cetakan yang lain seperti modul, pengajaran terprogram yang mampu berkomunikasi dengan peserta belajar, dan bahan bahan belajar lainnya yang bersifat non-cetak seperti kaset rekaman audio, kaset rekaman video, VCD, slide suara, filmstrip, film, bahan berbasis komputer, dan sebagainya perlu dikembangkan atau diproduksi sendiri oleh Pusat Sumber Belajar, sehingga bahan-bahan belajar yang ada di diklat (PSB) dapat digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pembelajaran.
Tipe yang paling umum dari peralatan audio-visual dan media yang ada di pusat-pusat belajar, antara lain, (1) pemutar kaset,  filmstrip, dan buku, (2) kotak multi-level , (3) mesin tik , overhead proyektor, (4) filmloop proyektor dan proyektor slide, dan (5) tep recorder, pengontrol pembaca, slide previewers, proyektor film 16mm suara, majalah, kartu aktivitas, cetakan studi, dan permainan.
Peralatan lain yang digunakan dalam pusat-pusat belajar antara lain:  filmloop viewere, filmstrip-makers, audio-card readers, televisi, video rekaman dan perangkat pemutaran, sound-slide , dan berbagai macam mesin program pengajaran.

G. Prosedur Penjadwalan
Bentuk penjadwalan yang digunakan di pusat-pusat pembelajaran sangat bervariasi dan  dipengaruhi oleh ukuran, staf (petugas), sumber, dan tujuan dari pusat belajar. Ukuran jumlah murid juga perlu menjadi pertimbangan penting.
Di sebagian besar pusat belajar, murid mengunjunginya secara perorangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Namun, untuk siswa tingkat SD pusat belajar membuat ketentuan  kelas kunjungan . Kunjungan tersebut dengan didampingi oleh guru kelas

Dalam kebanyakan kasus, telah ada usaha untuk memberikan jadwal secara terbuka dan fleksibel yang memungkinkan murid untuk datang dan pergi sesuai dengan keinginan. Meskipun demikian, sebagian besar pusat juga menyediakan jadwal  kunjungan.
Jadwal kunjungan yang sering dikembangkan oleh pimpinan pusat belajar berdasarkan konsultasi dengan guru kelas.
Melalui penjadwalan seperti itu guru bisa mengadakan komunikasi dengan petugas perpustakaan untuk menyediakan kebutuhan bahan ajar yang diperlukan, baik berupa buku penunjang atau bahan yang lain. Dengan demikian harapannya fungsi perpustakaan akan lebih mengena sesui dengan kebutuhan siswa.

H. Konsep Gaya Belajar

Dalam pengembangan keahlian membaca, kita harus memperhatika beberapa aspek tertentu dari gaya belajar, seperti sebagai berikut: (1) organisasi dan urutan unit pembelajaran, (2) langkah dari  unit pembelajaran, (3) modalitas preferensi;
(4) metode analitik dan sintetik dari membaca dan menulis sandi, (5) instrumentasi untuk belajar seperti penggunaan buku berbeda dengan pendekatan audio-visual, dan (6) konteks sosial, seperti tutor teman sebaya, belajar mandiri, remedial kelompok kecil, pendekatan membaca secara "individual", dan kelompok prestasi.
Penelitian yang paling substansial dan penerapan pembelajaran kognitif serta prosedur pemetaan kognitif telah dilakukan di Oakland Community College di Michigan di bawah bimbingan Dr Joseph E. Hill. Hill menunjukkan bahwa gaya kognitif individu ditentukan oleh cara dia melihat keseluruhan lingkungan-bagaimana ia mencari makna dan menjadi informasi. Sebagai contoh: apakah siswa pendengar atau pembaca? apakah ia hanya peduli dengan sudut pandang sendiri atau dia dipengaruhi dalam pengambilan keputusan oleh keluarga atau rekan? Apakah alasan siswa di kategorikan sebagai seorang ahli matematika , atau dalam hubungan sebagai ilmuwan sosial ? Penelitian Hill menunjukkan bahwa sifat siswa dapat diatur dalam beberapa set dan peta kognitif yang dikembangkan  memberikan gambaran yang lengkap dari berbagai cara di mana seorang individu memperoleh makna. Ia mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa sebagai dasar terhadap pembentukan program pendidikan secara individual.

Meskipun penerapan konseptualisasi Hill tentang gaya belajar belum diteliti  di tingkat SD atau SMP dan SMA, pendidik umumnya akan setuju bahwa siswa, pada kenyataannya, belajar dengan cara yang berbeda dan pada tingkat yang berbeda bahkan pada tingkat ini. Faktor pembelajaran meliputi kebiasaan perhatian, ciri-ciri kepribadian, perlengkapan preferensi  (misalnya, televisi, film, kaset audio-tape, dll), dan karakteristik peserta didik lainnya.

I. Konteks Sosial di mana siswa belajar

Pusat pembelajaran umumnya menyediakan kesempatan pada siswa  untuk belajar dalam berbagai konteks sosial. Yang paling umum adalah (1) studi indenpendent dengan bantuan orang dewasa sesuai kebutuhan, (2) secara perorangan dan kelompok yang terdiri dari tiga sampai tujuh murid, dan (3) berpasangan. Bantuan orang dewasa mungkin diberikan oleh asisten guru, relawan, atau pendidik profesional seperti direktur pusat belajar, pustakawan, atau guru kelas.
Ada kecenderungan bagi murid di kelas utama untuk belajar dalam kelompok-kelompok kecil, dengan sering berinteraksi antara guru dan murid. Pada tingkat kelas yang lebih tinggi, siswa bekerja secara independen . Dengan demikian, di pusat-pusat pembelajaran sekolah dasar, siswa akan lebih sering ditemukan bekerja secara kooperatif dalam kelompok kecil dengan proyek-proyek atau kegiatan di mana tujuan bersama dibagi, sehingga memfasilitasi pengembangan keterampilan sosialisasi dan pengembangan bahasa lisan, yang merupakan tujuan penting dalam awal nilai.

J. Evaluasi design
Metode yang digunakan untuk mengevaluasi pusat belajar siswa sebagian besar bersipat informal. Hal ini termasuk observasi, pada waktu penggunaan, sangat tidak jelas penetapan kriteria. Mereka juga termasuk sikap penilaian guru dan murid , dengan tipe baik secara formal maupun informal.
 Salah satu masalah dalam mengevaluasi pusat – pusat belajar yaitu  kesulitan mengendalikan variabel penting . Beberapa variabel penting yang dapat digunakan sebagai parameter kemajuan perpustakaan sekolah dalam peran dan fungsinya sebagai sumber belajar siswa meliputi:
1.      Keterampilan dan kemampuan direktur pusat belajar.
2.      Kualitas program-program sofware.
3.      Akurasi prosedur diagnosis dan diagnostik.
4.      Akurasi prosedur pemrograman preskriptif, pengetahuan tentang media mana yang akan paling efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran tertentu, dan pengetahuan tentang kesesuaian berbagai bahan untuk pelajar yang berbeda.
5.      Kualitas pelayanan yang disediakan oleh asisten guru, para propesionals,dan relawan.
6.      Tingkat dukungan program audio-visual berkenaan dengan  pemeliharaan dan perbaikan peralatan.
7.      Pengalaman dan sikap guru, siswa, direktur pusat belajar, dan orang lain yang terlibat dalam pusat pembelajaran.
8.      Saluran hubungan interpersonal dan kommunikasi
9.      Dukungan Administrasi
10.  Dukungan masyarakat.
11.  Kecukupan dalam jumlah  dan kualitas audio-visual hardware.
12.  Kemahiran pada penggunaan jadwal dari pusat belajar dan frekuensi pertemuan per murid  dalam pusat belajar.
13.  Pengalaman guru sebelumnya terhadap sikap intruction individualized , persepsi, keterampilan, dan kemampuan.
14.  Skill Organisasi  yang terlibat dalam operasional dari pusat pembelajaran.
15.  Kecukupan ukuran dan disain dari fasilitas fisik pusat pembelajaran.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Pusat Belajar muncul di kancah pendidikan pada awal 1960-an, dan pengembangan mereka telah sangat dipengaruhi oleh pustakawan sekolah dan media serta spesialis membaca. Pustakawan telah ber kontribusi terhadap  konsep pusat belajar, spesialis media telah memberikan kontribusi tentang konsep pendekatan multi-media dalam belajar, menggantikan teknik kuliah-dan-buku tradisional, spesialis membaca telah berkontribusi terhadap konsep gaya belajar, pengembangan pusat – pusat belajar  dipengaruhi oleh ukuran luas, kepentingan, keterampilan, dan kemampuan profesional.
Pola staf yang ada di sekolah-sekolah  memerlukan beberapa redefinisi peran terhadap staf pusat-pusat belajar . Di banyak sekolah  baik spesialis membaca atau peran pustakawan yang didefinisikan ulang dan diperluas sehingga mereka bisa bertanggung jawab atas pusat-pusat belajar. Namun, di beberapa sekolah direktur pusat belajar atau guru dijabat oleh orang lain selain spesialis membaca atau pustakawan, dan koordinasi dari berbagai peran sangat diperlukan.
Demikian pula, desain fisik dan ukuran pusat belajar sangat bervariasi dan sering ditentukan oleh ketersediaan ruang di sebuah gedung yang dibangun. Meskipun demikian, banyak administrator sekolah memulai merenovasi baik kecil dan besar untuk menyediakan fasilitas yang cocok untuk pusat belajar .
Jadwal pusat pembelajaran  bervariasi tergantung pada tujuan dari pusat, ukuran populasi murid dalam kaitannya dengan  ukuran dan staf dari pusat, serta keinginan dari guru kelas.
Pengembangan Perpustakaan Sekolah mutlak diperlukan karena Perpustakaan Sekolah memiliki fungsi sebagai salah satu sumber belajar di sekolah.
Pelaksanaan pengembangan Perpustakaan Sekolah berdampak positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa karena perpustakaan tidak lagi sebagai pelengkap institusi sekolah, melainkan berfungsi sebagai penunjang proses pembelajaran. Hal tersebut akan terwujud bila dalam pemanfaatan perpustakaan semua warga sekolah bersama bergerak dan menggerakkan ke perpustakaan sebagai sumber belajar.

B.     Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan maka dapat diajukan beberapa saran kepada:
  1. Kepala Sekolah
Sebagai pemegang kebijakan sekolah sebaiknya memperhatikan dan memposisikan Perpustakaan Sekolah secara kelembagaan sejajar dengan sarana dan prasarana pendukung sekolah lainnya.
  1. Guru
Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan sebagai sumber pengetahuan bagi siswa, sebab tanpa peran aktif guru untuk menggerakkan siswanya ke perpustakaan, kemungkinan kecil perpustakaan bisa berfungsi secara optimal sebagai sumber belajar.
  1. Komite Sekolah
Dukungan penuh dari Komite Sekolah, terutama dalam masalah pengembangan dan pengadaan buku mata pelajaran, walaupun Komite Sekolah bukan sebagai pengguna utama perpustakaan akan tetapi putra dan putrinya di sekolah sebagai pelanggan primer perpustakaan.
  1. Kepala Tata Usaha
Kepala Tata Usaha perlu melakukan rintisan gerakan wajib baca buku kepada staf tata usaha karena hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia terutama pada staf tata usaha itu sendiri.
  1. Siswa
Dalam pemanfaatan perpustakaan, hendaknya keterlibatan siswa bisa lebih dioptimalkan. Di samping itu, siswa diharapkan juga ikut berpartisipasi dalam menjaga keselamatan bahan bacaan atau bahan lainnya yang ada di perpustakaan.
DAFAR PUSTAKA
1.      Association for Educational Comunication Technology (AECT), Definisi Teknologi Pendidikan (Penerjemah Yusufhadi Miarso), Jakarta: C.V. Rajawali (Buku asli diterbitkan tahun 1977), 1986.

2.      Darmono. 2007. Makalah Pelatihan Tenaga Pengelola Perpustakaan. Batu, Malang: Badan Perpustakaan Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

3.      Darmono. 2007. Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. Jakarta: Grasindo, PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.




2 komentar: